Rabu pagi di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, terasa berbeda dari biasanya. Riuh rendah suara warga berbaur dengan embus angin perbukitan yang sejuk. Bagi 18 keluarga di sana, hari itu bukan sekadar hari Rabu biasa, melainkan babak baru setelah berbulan-bulan didera ketidakpastian.
Masih lekat di ingatan bagaimana penghujung tahun 2025 lalu menjadi ujian berat bagi mereka. Banjir bandang dan tanah longsor datang tanpa permisi, menyapu dinding-dinding rumah, dan memaksa mereka merelakan tempat bernaung yang dibangun bertahun-tahun. Kehilangan tempat tinggal berarti kehilangan rasa aman. Namun, keputusasaan itu perlahan terkikis di pertengahan Juli 2026 ini.
Hari itu, Wali Kota Padang, Fadly Amran, hadir langsung di tengah-tengah warga. Kedatangannya membawa sebuah kunci—sebuah simbol fisik dari terbukanya kembali pintu harapan yang sempat tertutup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara simbolis, kunci Hunian Sementara Sehat dan Layak (Hunsela) diserahkan kepada para penyintas. Sebanyak 18 unit bangunan siap pakai telah berdiri kokoh, terbagi di dua kawasan:
15 unit di kawasan Rimbo Panjang
3 unit di kawasan Gerbang Langit
Bangunan-bangunan ini mungkin berstatus “sementara”, namun bagi warga yang selama ini bertahan di posko pengungsian atau menumpang di rumah kerabat, Hunsela adalah sebuah kemewahan yang sangat disyukuri. Rumah-rumah ini dirancang dengan konsep sehat dan layak, memastikan anak-anak bisa tidur dengan nyenyak dan para orang tua bisa kembali menata hari esok tanpa cemas.
Dalam sambutannya, Wali Kota Fadly Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan warga berjalan sendiri dalam proses pemulihan ini. Hunsela hadir sebagai solusi taktis sekaligus jembatan transisi yang manusiawi.
“Kehadiran Hunsela menjadi solusi sementara untuk menyediakan hunian yang sehat, aman, dan layak bagi warga terdampak, sekaligus mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hingga pembangunan hunian tetap (Huntap) terealisasi,” ujar Fadly dengan nada optimis.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali infrastruktur yang rusak, tetapi juga memulihkan martabat dan kenyamanan hidup para korbannya.
Saat kunci-kunci rumah mulai berputar di lubangnya dan pintu-pintu Hunsela dibuka untuk pertama kali, ada helaan napas lega yang terdengar. Air mata duka akibat bencana setahun lalu kini berganti menjadi tangis haru. Perjalanan menuju pemulihan total memang masih panjang hingga Hunian Tetap (Huntap) selesai dibangun, namun hari itu, warga Lambung Bukit tahu bahwa mereka tidak lagi telantar. Mereka telah pulang, setidaknya untuk sementara waktu, ke tempat yang aman.
Redaktur: Andarizal















