Kala Jenderal Listyo ‘Lupa’ Istirahat Demi Mendengar Denyut Nadi Rakyat di Kediaman UAS

- Editor

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KAMPAR – Sebuah pertemuan penuh kehangatan sekaligus sarat makna terjadi di kediaman Ustadz Abdul Somad (UAS) di Rimbo Panjang, Kampar, Riau. Meski awalnya agenda tersebut sempat diragukan karena Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dipanggil oleh Presiden, pesawat orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu akhirnya mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sekitar pukul 21.00 WIB.

Tanpa membuang waktu, Jenderal Listyo langsung bertolak menuju kediaman UAS. Pertemuan yang awalnya dikira UAS hanya sekadar sapaan singkat (say hello), justru bergulir menjadi diskusi mendalam yang berlangsung hangat hingga mendekati pukul dua belas malam. Di tengah kepulan asap tembakau herbal dari Irjen Pol Herimen dan Irjen Pol Nainggolan yang mengusir nyamuk malam, sebuah dialog penting tentang bangsa dan daerah bergulir.

Tiga Kunci Stabilitas Sosial

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam suasana yang akrab, Jenderal Listyo membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan mendasar. “Apa yang Ustadz rasakan bersama masyarakat?”

Merespons pertanyaan tersebut, UAS merangkum kondisi psikologis dan kebutuhan riil masyarakat ke dalam tiga poin krusial yang harus menjadi perhatian bersama:

Pertama, Penuhi Hajat Hidup Dasar. UAS menekankan bahwa akar dari kedamaian masyarakat adalah terpenuhinya kebutuhan pokok. Masyarakat membutuhkan makanan murah, pendidikan terjangkau, kepastian lapangan kerja setelah lulus sekolah, layanan kesehatan yang prima, serta kenyamanan dalam beribadah. “Orang lapar, nganggur, sakit, dan kurang ibadah itu mudah marah, Jenderal,” ujar UAS mengingatkan.

Kedua, Tertibkan Media Sosial. UAS menyoroti daya rusak akun-akun palsu (fake accounts) di jagat maya yang kerap menjadi tempat pelampiasan amarah dan frustrasi psikologis. Ia mengusulkan pentingnya regulasi ketat seperti sistem one man one account. Menurutnya, virus hoaks dan kebencian di media sosial bisa diamplifikasi menjadi masalah sebesar gajah.

Ketiga, Stop Blunder Pejabat Publik. Di tengah situasi masyarakat yang sedang sulit dan sensitif, pernyataan blunder dari pejabat publik bisa menjadi pemantik bom waktu. UAS mengingatkan bahwa jika ledakan sosial terjadi akibat akumulasi rasa lapar dan narasi blunder yang digoreng di media sosial, maka yang akan berhadapan langsung (head-to-head) di lapangan bukanlah pejabat tersebut, melainkan para personel kepolisian di bawah. “Mereka bukan robot. Polisi itu manusia, istrinya sedang hamil, anaknya sekolah, punya masalah hidup,” tegas UAS.

Harapan Keberlanjutan Green Policing di Bumi Lancang Kuning

Selain membahas stabilitas makro, dialog malam itu juga menyentuh isu lokal Riau yang krusial, yakni kelestarian lingkungan. Mengingat Riau telah puluhan tahun menjadi korban pembalakan liar (illegal logging) dan bencana kabut asap, UAS mengapresiasi kebijakan Jenderal Listyo yang mengirimkan pimpinan kepolisian dengan kepedulian lingkungan yang tinggi.

Langkah ini telah melahirkan gerakan Green Policing yang merambah hingga ke sekolah, kampus, dan perkantoran untuk membangun kesadaran ekologi. Namun, UAS menitipkan pesan agar fondasi baik ini tidak runtuh saat terjadi pergantian kepemimpinan di masa depan.

“Jabatan Kapolda tidak abadi. Kalaupun berganti, ya tolong 11-12 (mirip), jangan sampai 11-17. Hancur pendidikan ekologi yang sudah dibangun ini,” harap UAS.

Pendekatan Humanis yang Melekat di Hati

Hal lain yang mendapat pujian dari UAS adalah gaya kepemimpinan kepolisian di Riau saat ini yang dinilai sangat linier dari level Kapolda, Kapolres, hingga Kapolsek. Pendekatan yang dilakukan kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama bukan lagi sekadar hubungan formalitas antara aparat dan warga, melainkan sudah menyentuh ranah kekeluargaan yang personal.

UAS menceritakan bagaimana para perwira polisi tersebut mempertemukan dirinya dengan orang tua mereka melalui *video call* untuk saling mendoakan, bahkan ada ibu Kapolres yang menitipkan anaknya.

“Hubungan melekat di hati seperti ini yang akan menjadi kenangan hingga akhir hayat. Tradisi seperti ini mesti dijaga,” pungkas UAS, mengingat masyarakat Indonesia sangat terikat dengan figur-figur kharismatik.

Pertemuan malam itu ditutup saat waktu sudah larut. Jenderal Listyo, yang keesokan paginya dihadapkan pada agenda penuh di Provinsi Riau, tampak seolah lupa untuk menyisakan energinya demi mendengarkan langsung denyut nadi dan aspirasi murni masyarakat yang dititipkan melalui lisan Ustadz Abdul Somad.

 

Follow WhatsApp Channel radarminang.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
Exploring Bandung’s Natural Wonders: From Volcanic Landscapes to Majestic Waterfall
The Evolution of Jakarta: From Colonial Capital to Modern Metropolis
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:20 WIB

Kala Jenderal Listyo ‘Lupa’ Istirahat Demi Mendengar Denyut Nadi Rakyat di Kediaman UAS

Kamis, 30 Maret 2023 - 20:15 WIB

Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

Selasa, 28 Maret 2023 - 16:24 WIB

Exploring Bandung’s Natural Wonders: From Volcanic Landscapes to Majestic Waterfall

Selasa, 28 Maret 2023 - 16:12 WIB

The Evolution of Jakarta: From Colonial Capital to Modern Metropolis

Berita Terbaru