Kritik yang Merangkul, Bukan Memukul

- Editor

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah riuhnya dinamika pembangunan dan perkembangan zaman, seringkali kita terjebak dalam arus kritik yang tajam. Kita terbiasa menuntut kesempurnaan seketika, padahal sejarah mencatat bahwa perubahan besar jarang sekali lahir dari langkah yang sempurna. Ia lahir dari keteguhan hati, proses yang panjang, dan keberanian untuk mengakui bahwa setiap langkah selalu menyisakan celah untuk diperbaiki.

Kita tidak bisa memungkiri, di balik setiap proyek infrastruktur, kebijakan publik, atau inisiatif komunitas, selalu ada tantangan yang menyertai. Namun, menjadi kritis bukan berarti harus memutus harapan. Menjadi kritis yang menyejukkan adalah tentang bagaimana kita mampu melihat apa yang sudah dicapai, sembari tetap membuka ruang dialog untuk perbaikan di masa depan.

Bukankah kita semua adalah bagian dari proses itu? Tidak ada manusia, pun tidak ada karya manusia, yang luput dari kekurangan. Mengakui ketidaksempurnaan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan titik pijak yang paling jujur untuk melangkah lebih jauh. Ketika kita melihat sebuah pembangunan seperti proyek di Sungai, insfratruktur jalan atau regulasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, pandangan kita mestinya tidak sekadar mencari siapa yang bersalah. Sebaliknya, mari kita bertanya, bagaimana kita bisa berkolaborasi untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan semua pihak?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kritik yang mencerahkan adalah kritik yang menawarkan solusi. Ia datang dengan semangat merangkul, bukan memukul. Ia percaya bahwa sebuah sistem akan menjadi lebih kuat jika setiap komponen di dalamnya merasa didengar dan dihargai kontribusinya.

Mari kita bergeser dari budaya saling menyalahkan menuju budaya saling mengingatkan dengan penuh martabat. Karena pada akhirnya, infrastruktur yang kokoh, regulasi yang adil, dan masyarakat yang kritis namun santun adalah tiga pilar utama yang akan membawa kita pada kesejahteraan yang sebenarnya. Kita tidak sedang membangun monumen kesempurnaan, kita sedang merawat ruang hidup bersama yang selalu butuh sentuhan kepedulian.

Dan dalam proses inilah, kebijaksanaan diuji. Mampukah kita melihat melampaui kesalahan, untuk kemudian bersinergi membangun hari esok yang lebih terang bagi kita semua?

Sebab, bukankah setiap retakan pada tembok adalah celah bagi cahaya untuk masuk? Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi berarti. Biarlah niat baik menjadi kompas, dan kesabaran menjadi pelabuhan. Di bawah langit yang sama, mari kita menenun harapan bukan dari benang-benang cela, melainkan dari helai-helai kebaikan yang kita tautkan bersama, demi masa depan yang lebih teduh bagi anak cucu kita kelak.

Padang, 1 Augustus 2026

Oleh: Andarizal

Follow WhatsApp Channel radarminang.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Merawat Nalar Menjaga Demokrasi, Tentang Pers dan Ketulusan Mengabdi
Pelajaran Berharga, Kesetiaan dalam Sebuah Perkumpulan
Catatan Redaksi: Bronjong Bukan Sekadar Tumpukan Batu
Padamkan Api Narkotika, Selamatkan Ranah Minang
Salah Alamat Hak Jawab
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:49 WIB

Kritik yang Merangkul, Bukan Memukul

Senin, 27 Juli 2026 - 08:08 WIB

Merawat Nalar Menjaga Demokrasi, Tentang Pers dan Ketulusan Mengabdi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:36 WIB

Pelajaran Berharga, Kesetiaan dalam Sebuah Perkumpulan

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:10 WIB

Catatan Redaksi: Bronjong Bukan Sekadar Tumpukan Batu

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:58 WIB

Padamkan Api Narkotika, Selamatkan Ranah Minang

Berita Terbaru

Opini

Kritik yang Merangkul, Bukan Memukul

Sabtu, 1 Agu 2026 - 10:49 WIB

Insfratruktur

Progres Preservasi Jalan Nasional di Dharmasraya Capai Tahap Krusial

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:56 WIB