Pilu, pedih, dan perih terasa menyesakkan dada. Tekad untuk mengenyam pendidikan tak kunjung padam, meski berbagai rintangan menghadang di depan mata. Ibarat pepatah, bukit akan kudaki, lautan akan kuseberangi, asal cita-cita tercapai dan masa depan diraih.
Sepenggal cerita duka ini mengiringi kepiluan hati saat menyaksikan rekaman video berlatar belakang di Desa Sagalubbeg, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Ini bukanlah adegan film atau sinetron dramatis yang dirancang untuk menguras air mata penonton. Ini adalah sebuah realitas pahit yang menusuk hati dan memainkan perasaan sebuah kisah nyata tanpa akhir yang memperlihatkan perjuangan penuh taruhan nyawa demi secercah harapan.
Dalam video tersebut, anak-anak berseragam sekolah tampak bahu-membahu menyeberangi derasnya arus sungai keruh yang meluap. Tanpa jembatan yang layak untuk menyambung harapan mereka, setiap langkah di atas bebatuan licin dan air yang deras menjadi pertaruhan yang berbahaya. Baju, tas, buku, dan sepatu mereka basah kuyup tersapu air bah. Namun, semangat belajar di dalam dada mereka jauh lebih besar daripada ketakutan akan arus yang menerjang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjuangan ini menampar kesadaran kita semua tentang ketimpangan infrastruktur di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Di saat anak-anak di perkotaan melangkah ke sekolah dengan fasilitas yang memadai di atas jembatan yang kokoh, anak-anak di Sagalubbeg harus bergelut dengan maut setiap hari hanya untuk menimba ilmu.
Semoga kisah ini membuka mata para pemangku kebijakan dan mengetuk hati banyak pihak untuk segera menghadirkan jembatan penghubung. Agar kelak, tak ada lagi cerita anak-anak Mentawai yang harus bertaruh nyawa demi menyambut masa depan bangsa.
Padang, 9 Oktober 2026
Oleh: Andarizal















